Minggu, 27 Januari 2013

cermin usang

Menepilah sejenak, asala jangan bersandar dalam diam!


Hai kamu..
Apa enaknya beban hingga kau menikmatinya sampai kenyang ?
Apa bagusnya tenang jika pada akhirnya kau rasakan gusar dalam diam ?

Wahai kau perempuan dalam cermin usang . D E N G A R !

aku nggak suka kamu yg sinis, memendam emosi dan meledakannya di kamar, sendiri.
aku benci kamu yang egois, berfikir secara pragmatis beradegan begitu dramatis.
aku muak dengan senyumanmu, senyuman-senyuman yang tidak lagi kau design dari hati.

aku rindu kamu yang dulu , jiwa yang cerianya tanpa ragu tanpa sedikitpun menyimpan sendu.
Kembalilah… dan pahamilah, berjalan kedepan hanya akan membuatmu terjatuh jika kepalamu masih saja menengok ke belakang.

Selasa, 22 Januari 2013

makam luka terlupa


Wahai luka kenapa tiba-tiba kau hadir dan menghantuiku lagi?? Padahal pemakamanmu telah ku taburi bunga keikhlasan.
Apa kau bangkit  untuk menagih janji yg belum sempat terbayar?
Tapi apa?
Aku lupa.
Atau mungkin bunga-bungaku telah layu dan meninggalkan bau busuk yang mengganggu.
Maafkan aku.
Aku lupa mengunjungimu.

Ku mohon sebelum hisabmu mengudara, tetaplah terjaga.
meski bau busuk mengelilingi, meski tak ada seorangpun yang menaburi bunga lagi.
Tetaplah disana, jangan kemana-mana, apalagi menghantuiku di kala sepi.
Aku bisa hilang kendali jika bayanganmu kembali menari.

Pergilah..
Kau tak pantas ada disini,
tempatmu bersama mimpi-mimpi yang terbunuh tragis.
Tapi percayalah..
Aku akan sering datang untuk menaburi bunga dan memanjatkan do’a agar kau tenang disana.


Jakarta, Aku lupa aku luka

Jumat, 18 Januari 2013

aku hanya sekedar air yang mengalir


perkenalkan namaku air, aku ini adalah senyawa penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, substansi yang mempunyai keistimewaan sebagai penghantar panas yang sangat baik, sebagian besar diriku terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es serta masih banyak lagi definisi-definis lain yang menceritakan tentang keadaan diriku, dan pastinya aku ini merupakan zat yang paling esensial yang dibutuhkan makhluk hidup dimuka bumi ini.

Jelas… mereka tentu tau, aku berada di dalam obyek-obyek yang bergerak mengikuti suatu siklus air, seperti penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah. Bukankah pergerakanku itu mudah, aku hanya berjalan menelusuri tiap-tiap bagian yang telah di tetapkan lalu kalian hanya perlu membiarkan aku beristirahat dan berjalan mengalir bersama derasnya curah yang mendorongku kesana, ya kesana ke tempatku bermuara, ke laut tanpa hambatan, ke lahan hijau sebagai resapan.

Sederhananya, jangan halangi aku jika kau tak ingin bertemu masalah, karna aku ini hanya air yang mengalir, keadaanku tergantung bagaimana caramu memperlakukanku. Aku bisa  menjadi sumber kehidupan, tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi sebuah perkara yang memusingkan, bahkan sekarang kehadiranku kerap kali menjadi perbincangan, mulai dari rakyat jelata sampe presidennya. karna sekumpulan aku berkumpul dan kalian beri nama BANJIR ! pahamilah julukan yang kalian sematkan pada sekumpulan kami lantaran kalian yang merusak perjalanan kami.

Bahkan ada beberapa diantara kalian yang dengan entengnya menyalahkan curha hujan kami, padahal kami diturunkan sebagai rahmat. Atau mungkin mereka tidak menyadari, karna memang rahmat itu di turunkan hanya untuk yang taat. ada yang mengaku rakyat biasa tanpa merasa bersalah membuang sampah seenaknya, ada yang berkantong tebal merasa pantas membangun gedung semaunya. kalian fikir kalian siapa ??? jika memang demikian maunya, jangan salahkan aku yang akhirnya menggenangkan diriku dengan tidak pantasnya.


Iseng –iseng berimajinasi menjadi air :) hehe



Kamis, 10 Januari 2013

kepada kalian, kekaguman itu


Sosoknya terekam jelas dalam ingatan, perlahan mengalir bersama kekaguman yg tidak bisa dijelaskan, akan pemahamannya tentang islam dalam waktu singkat. Ilmu agama yang dimilikinya membuat saya menutup mata akan cerita usang yg pernah ia lewatkan. Implementasi dari setiap ilmunya menjadikan saya sama sekali tak perduli bagaimana masalalu beliau dulu, karna yg saya tau apa yg beliau jalankan saat ini penuh keyakinan utuh dibawah asuhan sunnah dan qur’an. Label mualaf tidak membuatnya lantas terabaikan, justru malah menjadi bagian sejarah dalam dakwah Islam yang luar biasa, yang dg lantang mengibarkan panji islam, menyuarakan syariat dan bukan hanya sekedar mengudarakan amar ma’ruf tapi juga dengan lantang meneriakan nahi munkar. Seseorang yg tak perduli apa kata ucap makhluk untuk mendendangkan cita-cita tentang penaklukan roma di tangan anak-anaknya. Bersandingan dengan istri yang sholeha membuat beliau memiliki keyakinan yang mantap akan impiannya, karna memang generasi yang baik akan terlahir dari wanita yang baik-baik. Dan sakinnah, mawadah wa rohmah menjadi  ciri khas dari keluarga mereka.

Subhanallah…kalimat thayibbah kerap kali terdengar manakala keluarganya ada ditengah-tengah sekumpulan manusia.

Terus terang hati ini iri menyaksikan cara mereka mengutamakan ilmu syar’i dalam keluarga kecilnya yang belum bs saya gapai, bahkan masih sangat jauh dari jangkauan, makanya saya menuliskan ini sebagai acuan, kelak suatu saat saya harus mampu menerapkan hal yang sama untuk keluarga saya nantinya. Ya nanti, bersama dia si pemilik tulang rusuk kiri. semoga Alloh meridhoi niatku ini  dan ridho pada diriku, agar kelak aku pantas disandingkan oleh laki-laki yang Alloh ridhoi sebagai hamba-Nya. Aamiin


kepada Ummi Iin, Utadz Felix dan ketiga anak-anaknya terutama Alila, saya ucapkan terima kasih sekali, dari kalian saya belajar banyak terutama perihal istiqomah. Perbincangan singkat tempo hari sangat memikat, terutama Ummi Iin yang tak segan terus memberikan saya semangat padahal kita baru pertama kalinya bertatap muka.

Senin, 07 Januari 2013

senja yang tak biasa


menjelang petang.
langit masih terang, dan matahari pun masih enggan berpulang. sementara aku juga masih enggan menolehkan pandangan, duduk berpangku tangan disudut ruang yang di penuhi lampu temaran yang sebagian masih padam, dalam dekapan sepi aku mencoba menguasai diri. sejenak menyerahkan diri pada lamunan yang meraih sisi tenangku, mengunci bagian-bagian peluhku, mengudarakan segenap angan-anganku. sungguh ternyata itu nyaman, sangaaat nyaman… tapi sebentar, sebenarnya isi kepalaku riuh tak berhenti memikirkan takdir yang terkadang datangnya tak mengetuk dan perginya tanpa permisi. jelas tak pantas ku menyalahkan takdir yang dirancang oleh Sang Maha Sempurna, dan terang sudah akulah yang ceroboh, mempermainkankan waktu yang jelas jelas tidak akan pernah bisa dirayu.


petang,
nanar.. mengadah ke langit  kurasakan mendung menyelimuti bagian tertinggi cakrawala dan tetiba aku mengkhawatirkan kalau kalau langit lebih menginginkan hitamnya berlari kencang dan meninggalkan orangenya sampai tak terkejar. hingga tak ada senja yang indah, tak ada merona yang mempesona. persis seperti kekhawtiranku akan waktu yang dilahap oleh si khilaf lalu kehilangan manisnya ampunan, dan sejuknya curahan rahmat. naudzubillah summa naudzubillah



tak ada naungan yg lebih aman, selain dari naungan-Mu dan tak ada pinta yang lebih istimewa selaih mengharap ridho-Mu, maka jadikanlah aku hamba yang Engkau Ridhoi, agar kelak aku pantas Engkau sandingkan dengan laki-laki yang Kau ridhoi

Minggu, 16 Desember 2012

merayu sang Maha Tahu

“ya Alloh perkenankanlah aku mengudarakan ikhlas pada dia yg sempat membekas”

sebongkah harap meraung-raung dibenak yang entah seolah semakin beranak pinak.
ya Robb apa pintaku itu terlalu banyak, hingga serasa ada yang sulit ter-iya-kan dalam memaknai kisah yang telah usang. sampai luka ini masih sering kali melembab dihangatnya ketentraman yang kemudian lagi lagi tanpa permisi meninggalkan sebuah kondisi.

dan jika memang Kau hendaki pondasi ini rapuh, ku mohon jgn tinggalkan aku. Sungguh aku mencintai cara-Mu menegurku.

Selasa, 04 Desember 2012

sekedar imajiku yang ambigu

aku disudut bisu masi dalam lamunan yang menimang-nimang pilu, tapi ini bukan lagi tentang pilunya sendu, melainkan imajinasi yang ku mainkan sendiri dalam ruangku. Aku sebagai pemain sekaligus sutradara, peranku disini ganda makanya aku sangat antusias menikmatinya, hingga hamdallah aku jadikan akhir dari setiap adegan yang aku lakoni.
karna aku mampu berperan dan mengakui kebodohanku meski lewat adegan ini

…..

“memang hal seperti ini masih perlu dipermasalahkan?? Apa tidak ada masalah lain yang bisa kau selesaikan??”  nada bicaranya datar


“dengarlah, ini perkara yang memang harus kusampaikan pada tuan.”. wajahnya meratap


“sudahlah, aku sudah muak. Bagiku ini semua sudah selesai dan tak perlu lagi kau angkat ke permukaan.”. bergeser sedikit untuk memalingkan wajahnya


“tapi,  tuan tidak akan pernah mengerti, bagaimana deritaku memikul beban.”


“kau membicarakan tentang pengertian padaku?”
“memang apa yang kau mengerti dariku, coba ceritakan. Dan ingat aku benci wajah-wajah yang bersembunyi dalam tawa.”


“sesungguhnya  ingin sekail saya menyampaikan, namun tetiba firkiranku berubah. Aku khawatir kelak kau akan kembali menciptakan jarak.” Smbil mengehela nafas, ia tersenyum ” Biar kusimpan ini sendirian tanpa perlu kau tau aku kesakitan.”


“boleh ku samakan kau dg penipu.”


“tapi aku tidak membohongimu”. Membela diri.


“tapi kau membohongi dirimu”

diam, dan tersungkur malu dalam bisu.