Jumat, 18 Januari 2013

aku hanya sekedar air yang mengalir


perkenalkan namaku air, aku ini adalah senyawa penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, substansi yang mempunyai keistimewaan sebagai penghantar panas yang sangat baik, sebagian besar diriku terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es serta masih banyak lagi definisi-definis lain yang menceritakan tentang keadaan diriku, dan pastinya aku ini merupakan zat yang paling esensial yang dibutuhkan makhluk hidup dimuka bumi ini.

Jelas… mereka tentu tau, aku berada di dalam obyek-obyek yang bergerak mengikuti suatu siklus air, seperti penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah. Bukankah pergerakanku itu mudah, aku hanya berjalan menelusuri tiap-tiap bagian yang telah di tetapkan lalu kalian hanya perlu membiarkan aku beristirahat dan berjalan mengalir bersama derasnya curah yang mendorongku kesana, ya kesana ke tempatku bermuara, ke laut tanpa hambatan, ke lahan hijau sebagai resapan.

Sederhananya, jangan halangi aku jika kau tak ingin bertemu masalah, karna aku ini hanya air yang mengalir, keadaanku tergantung bagaimana caramu memperlakukanku. Aku bisa  menjadi sumber kehidupan, tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi sebuah perkara yang memusingkan, bahkan sekarang kehadiranku kerap kali menjadi perbincangan, mulai dari rakyat jelata sampe presidennya. karna sekumpulan aku berkumpul dan kalian beri nama BANJIR ! pahamilah julukan yang kalian sematkan pada sekumpulan kami lantaran kalian yang merusak perjalanan kami.

Bahkan ada beberapa diantara kalian yang dengan entengnya menyalahkan curha hujan kami, padahal kami diturunkan sebagai rahmat. Atau mungkin mereka tidak menyadari, karna memang rahmat itu di turunkan hanya untuk yang taat. ada yang mengaku rakyat biasa tanpa merasa bersalah membuang sampah seenaknya, ada yang berkantong tebal merasa pantas membangun gedung semaunya. kalian fikir kalian siapa ??? jika memang demikian maunya, jangan salahkan aku yang akhirnya menggenangkan diriku dengan tidak pantasnya.


Iseng –iseng berimajinasi menjadi air :) hehe



Kamis, 10 Januari 2013

kepada kalian, kekaguman itu


Sosoknya terekam jelas dalam ingatan, perlahan mengalir bersama kekaguman yg tidak bisa dijelaskan, akan pemahamannya tentang islam dalam waktu singkat. Ilmu agama yang dimilikinya membuat saya menutup mata akan cerita usang yg pernah ia lewatkan. Implementasi dari setiap ilmunya menjadikan saya sama sekali tak perduli bagaimana masalalu beliau dulu, karna yg saya tau apa yg beliau jalankan saat ini penuh keyakinan utuh dibawah asuhan sunnah dan qur’an. Label mualaf tidak membuatnya lantas terabaikan, justru malah menjadi bagian sejarah dalam dakwah Islam yang luar biasa, yang dg lantang mengibarkan panji islam, menyuarakan syariat dan bukan hanya sekedar mengudarakan amar ma’ruf tapi juga dengan lantang meneriakan nahi munkar. Seseorang yg tak perduli apa kata ucap makhluk untuk mendendangkan cita-cita tentang penaklukan roma di tangan anak-anaknya. Bersandingan dengan istri yang sholeha membuat beliau memiliki keyakinan yang mantap akan impiannya, karna memang generasi yang baik akan terlahir dari wanita yang baik-baik. Dan sakinnah, mawadah wa rohmah menjadi  ciri khas dari keluarga mereka.

Subhanallah…kalimat thayibbah kerap kali terdengar manakala keluarganya ada ditengah-tengah sekumpulan manusia.

Terus terang hati ini iri menyaksikan cara mereka mengutamakan ilmu syar’i dalam keluarga kecilnya yang belum bs saya gapai, bahkan masih sangat jauh dari jangkauan, makanya saya menuliskan ini sebagai acuan, kelak suatu saat saya harus mampu menerapkan hal yang sama untuk keluarga saya nantinya. Ya nanti, bersama dia si pemilik tulang rusuk kiri. semoga Alloh meridhoi niatku ini  dan ridho pada diriku, agar kelak aku pantas disandingkan oleh laki-laki yang Alloh ridhoi sebagai hamba-Nya. Aamiin


kepada Ummi Iin, Utadz Felix dan ketiga anak-anaknya terutama Alila, saya ucapkan terima kasih sekali, dari kalian saya belajar banyak terutama perihal istiqomah. Perbincangan singkat tempo hari sangat memikat, terutama Ummi Iin yang tak segan terus memberikan saya semangat padahal kita baru pertama kalinya bertatap muka.

Senin, 07 Januari 2013

senja yang tak biasa


menjelang petang.
langit masih terang, dan matahari pun masih enggan berpulang. sementara aku juga masih enggan menolehkan pandangan, duduk berpangku tangan disudut ruang yang di penuhi lampu temaran yang sebagian masih padam, dalam dekapan sepi aku mencoba menguasai diri. sejenak menyerahkan diri pada lamunan yang meraih sisi tenangku, mengunci bagian-bagian peluhku, mengudarakan segenap angan-anganku. sungguh ternyata itu nyaman, sangaaat nyaman… tapi sebentar, sebenarnya isi kepalaku riuh tak berhenti memikirkan takdir yang terkadang datangnya tak mengetuk dan perginya tanpa permisi. jelas tak pantas ku menyalahkan takdir yang dirancang oleh Sang Maha Sempurna, dan terang sudah akulah yang ceroboh, mempermainkankan waktu yang jelas jelas tidak akan pernah bisa dirayu.


petang,
nanar.. mengadah ke langit  kurasakan mendung menyelimuti bagian tertinggi cakrawala dan tetiba aku mengkhawatirkan kalau kalau langit lebih menginginkan hitamnya berlari kencang dan meninggalkan orangenya sampai tak terkejar. hingga tak ada senja yang indah, tak ada merona yang mempesona. persis seperti kekhawtiranku akan waktu yang dilahap oleh si khilaf lalu kehilangan manisnya ampunan, dan sejuknya curahan rahmat. naudzubillah summa naudzubillah



tak ada naungan yg lebih aman, selain dari naungan-Mu dan tak ada pinta yang lebih istimewa selaih mengharap ridho-Mu, maka jadikanlah aku hamba yang Engkau Ridhoi, agar kelak aku pantas Engkau sandingkan dengan laki-laki yang Kau ridhoi

Minggu, 16 Desember 2012

merayu sang Maha Tahu

“ya Alloh perkenankanlah aku mengudarakan ikhlas pada dia yg sempat membekas”

sebongkah harap meraung-raung dibenak yang entah seolah semakin beranak pinak.
ya Robb apa pintaku itu terlalu banyak, hingga serasa ada yang sulit ter-iya-kan dalam memaknai kisah yang telah usang. sampai luka ini masih sering kali melembab dihangatnya ketentraman yang kemudian lagi lagi tanpa permisi meninggalkan sebuah kondisi.

dan jika memang Kau hendaki pondasi ini rapuh, ku mohon jgn tinggalkan aku. Sungguh aku mencintai cara-Mu menegurku.

Selasa, 04 Desember 2012

sekedar imajiku yang ambigu

aku disudut bisu masi dalam lamunan yang menimang-nimang pilu, tapi ini bukan lagi tentang pilunya sendu, melainkan imajinasi yang ku mainkan sendiri dalam ruangku. Aku sebagai pemain sekaligus sutradara, peranku disini ganda makanya aku sangat antusias menikmatinya, hingga hamdallah aku jadikan akhir dari setiap adegan yang aku lakoni.
karna aku mampu berperan dan mengakui kebodohanku meski lewat adegan ini

…..

“memang hal seperti ini masih perlu dipermasalahkan?? Apa tidak ada masalah lain yang bisa kau selesaikan??”  nada bicaranya datar


“dengarlah, ini perkara yang memang harus kusampaikan pada tuan.”. wajahnya meratap


“sudahlah, aku sudah muak. Bagiku ini semua sudah selesai dan tak perlu lagi kau angkat ke permukaan.”. bergeser sedikit untuk memalingkan wajahnya


“tapi,  tuan tidak akan pernah mengerti, bagaimana deritaku memikul beban.”


“kau membicarakan tentang pengertian padaku?”
“memang apa yang kau mengerti dariku, coba ceritakan. Dan ingat aku benci wajah-wajah yang bersembunyi dalam tawa.”


“sesungguhnya  ingin sekail saya menyampaikan, namun tetiba firkiranku berubah. Aku khawatir kelak kau akan kembali menciptakan jarak.” Smbil mengehela nafas, ia tersenyum ” Biar kusimpan ini sendirian tanpa perlu kau tau aku kesakitan.”


“boleh ku samakan kau dg penipu.”


“tapi aku tidak membohongimu”. Membela diri.


“tapi kau membohongi dirimu”

diam, dan tersungkur malu dalam bisu.

Minggu, 25 November 2012

semesta selalu punya cara dalam merajut bahagia



menghabiskan pagi hingga petang, di depan layar monitor yang dibawahnya menari tuts-tuts yang berwara-wiri hampir setiap hari. soal jenuh jangan di tanyakan lagi, itu sudah pasti. Hanya saja dibutuhkan kejelian untuk mensiasati semuanya dg apik.

Seperti terdengar “tolong lebarkan spasi dalam ruang nyamanku hingga meluas dan tak mudah retak.” Jerit hati seorang perempuan yang di iya-kan kawan seperjuangannya.

Akhirnya mereka mencari-cari hal yang menarik tp juga membawa manfaat, dengan minimnya informasi yang mereka dapat kemudian mereka memutuskan untuk bergerak cepat sebelum jenuh semakin menggerogoti ruang sempitnya.

Alhamdulillah pencarian mereka berakhir, ruang aula dekat kantor pemerintahan sudah mereka sambangi, itu yang mereka cari. Dan rona bahagia tak bisa ditutupi lagi dari mimik yang dipancarkan keduanya. Senyum sumringah, teriak bahagia ala permpuan remaja pun mereka dendangkan, padahal nyatanya mereka adalah wanita yg harus sudah dikatakan dewasa. Tapi apa mau di kata, siapapun yang menemukan apa yang di cari boleh kiranya kita sebut itu sebuah kebahagian yang di ekspresikan secara nyata adanya :)



Dan sampai detik ini kebahagian itu nyata tak terbantahkan. Solidaritas yg gag bs diragukan, kebersamaan yg slalu diutamakan dan cerianya tanpa kemunafikan. Begitulah… saya menikmatinya lebih dari kata bahagia, sampe gag kebayang kalo kalo suatu saat saya harus memutuskan untuk keluar dari barisan.

Kepada keluarga besar cingkrig kong hayat saya ucapkan hatur nuhun sangat dan kepada yg memperkenalkan, padanya kami ucapkan terimakasih. Saya tau semesta slalu bekerja untuk kebahagian kita.


Kamis, 22 November 2012

mengaggumimu, cukup sekian nyaliku

Dingin dan gemercik hujan mengantarkan aku pada layar kaca yang ada dihadapanku saat ini, entah tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu tentang makhlukNya yang belakangan ini memenuhi isi kepalaku, ya semoga tidak berlebihan. Karna yang aku tau Rabb ku itu Maha Pencemburu makanya perihal ini ku simpan rapi di dalam qolbu. Walau sejujurnya ingin sekali dia tau tentang kagum yang ku simpan sejak dulu.

Sebuah nama sebuah rahasia tapi tidak bisa dikatakan rahasia lagi mengingat sahabat-sahabat terdekatku sudah mulai tau perkara asa hingga rasa yang aku sandarkan padanya. Tadinya ingin ku telan sendiri, tapi apa mau di kata namanya juga rasa makin di simpan justru malah bikin gelisah.hehe biasalah wanita salah satu bentuk ujiannya adalah mengendalikan rasa 

Sebenarnya, bisa dikatakan aku adalah orang yang supel dalam bergaul, tapi entah kenapa saat di hadapannya aku harus bekerja keras untuk berlaku senormal mungkin. Aku menjadi linglung, bersikap seperti baling-baling yang hanya berputar di satu titik tanpa kendali dan sulit berhenti. Bahkan kedua mataku yang jeli pun tak mampu mengeja apa yang sedang ia ceritakan.

jiwaku berteriak “jadilah aku, setidaknya kau akan tau bagaimana rasanya menyimpan sendu dari decak kagum yang tak pernah kau tau.”

Sungguh kekaguman yang tertimbun pada si pemilik senyum itu sebenarnya bukan dalam tempo yang singkat, melainkan sejak duduk di bangku sekolah dulu entah sudah berapa tahun yang lalu dan ku biarkan saja begitu. Samapai akhirnya kekaguman itu berkembang pesat diluar dugaanku bahkan sudaha melahirkan sebuah asa hingga rasaku hambar untuk lelaki lain. semoga Alloh memaafkan andaikata terselip hal yang berlebihan, karna tak jarang aku sampai menyelipkan namanya di antara semoga dan aamiin-ku.