di jabal uhud
tubuhnya bergetar
jibril mendekapnya
tubuhnya bercahaya
bacalah
di jabal nur
tubuhnya diselimuti cahaya
jibril menuntunnya baca
tubuhnya menggigil luar biasa
bacalah
di jabal nur
dalam kepasrahan hamba
tubuhnya bercahaya jibril mengokohkan jiwanya
bacalah
batu batu itu
gugusan gunung itu
lembah itu
padang pasir
pohon pohon korma
angin yg berhembus
bintang gemintang
cahaya dan semua partikel
semua makhluk yg ada di langit dan di bumi
semua yg menjadi saksi
bahwa dia
dia yg bercahaya itu
yang dituntun jibril membaca cahaya itu
dia adalah utusan Alloh
sejak itu dia membaca cahaya
dia membawa cahaya
dia menyampaikan cahaya
dia menyibak kegelapan dengan cahaya
cahaya ayat ayat Alloh
cahaya itu yg potong potong
tiap hari dibagi sama rata
tak kurang tak lebih
tiap akal yg sempurna
setiap potongan cahaya itu
menjadi cahaya yg sempurna
ia letakkan di mekkah di thaif di madinah
diseluruh penjuru jazirah
lalu ia ratakan ke belahan timur dan barat
dan keseluruh seru sekalian alam
cahaya itu bernyawa
cahaya itu menghidupkan jiwa jiwa yg mati
menyembuhkan peradaban yg sekarat
lihatlah dia
penggembala domba yang tidak bisa membaca itu
menyentuhnya dg cahaya
apa saja yag ia sentuh menjadi hidup menjadi bahagia
bacalah
dengan menyebut nama tuhanmu yg menciptakan
dia membaca ayat ayat alloh
hidup dalam nadinya
dialah al quran yg hidup dan bernyawa
para tiang tumbang berhadapan dengannya
.... yg menjarahi dunia melebihi para raja
karena ikut dibelakngnya
dan kelak ketika gunung gunung meletus
langit pecah bumi terbelah
mayapada diselimuti api
semua sekarat dan mati
jibril mikail isrofil izroil
dan semuanya yg bernama makhluk akhirnya mati
padang masyhar digelar
amal amal ditimbang
tempat kembali ditentukan
surga dan neraka jahannam
dia alquran berjalan itu
kembali datang membawa kesejukan
ketenangan dan rasa aman
dia membawa syafaat
untuk siapa saja yg bernaung
dalam cahaya petunjuknya
dialah muhammad nabi penyejuk jiwa
cahaya peradaban ummat manusia
dialah alquran yg bernyawa
untuknya kukirim shalawat dan salam cinta
yg tiada habis habisnya
aku adalah senja yang enggan meninggalkan petang karna sudah terkurung nyaman dalam orange langitnya.
Kamis, 28 Februari 2013
Senin, 25 Februari 2013
teruntuk kamu yang berlabel masalalu
entah bagaimana keadaanmu sekarang, yang kira-kira setahun yang lalu masih asyik menghiasi duniaku. yang ketika bersamamu
rasanya waktu bgtu cemburu sampai ia harus berkejar-kejaran untuk
membatasi kita.
mungkin itu perintah Tuhan, sampai akhirnya ia memberhentikan kita.
hai kamu yang disana, yang mungkin sudah menjadi miliknya
yang dg sigapnya pemilikmu yang sekarang mencurinya dari tanganku, dulu
baiklah tak apa sudah ku lupakan, sudah ku ikhlaskan kamu untuknya.
anggaplah aku sedekah, karna bukankah sedekah yg baik adalah ketika kita ikhlas berikan yang terbaik yang kita miliki.
haha oke ini hanya guyon, rasanya tak patut jika perihal sedekah ku jadikan bahan lelucon
sebenarnya aku hanya ingin tau kabarmu yang begitu dekat namun berjarak.
jarak jarak yg tak lagi bersahabat, jarak jarak yg tidak lagi memperkenankan aku bertindak apalagi memihak.
seperti matahari dan bintang yang beredar dalam hamparan langit yang sama tp tak pernah saling sapa.
aku diam bukan tak peduli
aku diam bukan ingin membiarkan mu pergi
aku diam memang keadaanku seperti ini, pandai bersembunyi dalam sepi, pandai merekayasa diri.
di tambah mimik wajahku yang begitu lihai menyembunyikan gejolak hati,
tau kenapa ??? karna ini perintah Illahi , sepatutny wanita menjaga diri. karna sebagaimana fitrahnya seorang wanita mudah sekali terbuai mulut manis lelaki.
mungkin ya aku egois, tp memang adanya seperti ini butuh kamu yang penuh dg kesabaran tinggi untuk soal hati. untuk hal lain biar aku ikut berperan; menyeka keringatmu , meningatkanmu kala nakal , menyemangatimu dalam duka , menemanimu saat susah dan yang akan slalu ada meski lelap menghampiriku , insyaAlloh semampuku
itu bagian janji dari ku untuk pria yang mampu memenangkan hatiku, yang dulu ku harap itu adalah kamu. tp mulai detik ini sudah ku ubah harapan itu :)
layang-layang
ragaku berhamburan ke tanah lapang, berniat menerbangkan layang-layang yang tadi ku pasangkan benang sebelum petang.
warnanya merah, berbentuk hati. indaaaah sekalii..
tak di sangka ternyata cukup sulit menernbangkan layang-layang tanpa keahlian, tapi aku yakin layanganku akan terbang menerobos angin yang kencang, bersama keyakinan penuh dan usaha yg teguh aku akan tetap berdiri disini. tak perduli seberapa besar hembusan angin yang mengoyak jilbab putihku nanti. pasalnya jika aku sudah berani bermimpi pasti sekuat tenaga akan ku coba raih.
apalagi mimpiku sesederhana menerbangkan layang-layang ke udara.
tetiba anganku membayang, jika terbang nanti dan ketika orange senja menepi akan ku lepaskan layang-layang tadi bersama mimpi-mimpi yang telah kutulis di sudut layang-layang hati, tempo hari.
ah.. seandainya saja mengudarakan ikhlas semudah melepaskan ikatan benang pada layang-layang, pasti saat ini aku sudah bergegas bangkit dari luapan emosi yang kerap kali menguasai diri.
warnanya merah, berbentuk hati. indaaaah sekalii..
tak di sangka ternyata cukup sulit menernbangkan layang-layang tanpa keahlian, tapi aku yakin layanganku akan terbang menerobos angin yang kencang, bersama keyakinan penuh dan usaha yg teguh aku akan tetap berdiri disini. tak perduli seberapa besar hembusan angin yang mengoyak jilbab putihku nanti. pasalnya jika aku sudah berani bermimpi pasti sekuat tenaga akan ku coba raih.
apalagi mimpiku sesederhana menerbangkan layang-layang ke udara.
tetiba anganku membayang, jika terbang nanti dan ketika orange senja menepi akan ku lepaskan layang-layang tadi bersama mimpi-mimpi yang telah kutulis di sudut layang-layang hati, tempo hari.
ah.. seandainya saja mengudarakan ikhlas semudah melepaskan ikatan benang pada layang-layang, pasti saat ini aku sudah bergegas bangkit dari luapan emosi yang kerap kali menguasai diri.
Minggu, 10 Februari 2013
selamat untukmu, dan maafkan diriku
Malam yang sudah memasuki pagi, atau katakan saja ini pagi yang masih terlalu gelap.
Aku terbangun seperti biasanya, tapi pagi ini berbeda, pagi ini menjadi pagi yang tersentak ketika aku mendapati sebuah pesan yang terlihat pada layar hapeku . Sontak kedua mataku langsung terbelalak menyadari kelupaan yang memalukan. Maafkan aku. Tak ada sekalipun maksud melupakan hari-mu.
Ini februari tanggal kesepuluh, dan aku merasa malu karna baru sempat mengcapkan selamat padamu, sebenarnya hari ini sudah jauh dari tanggal milad-mu tp smoga sudi berkenan membaca tulisanku yang sederhana ini.
Dwi Febrina Novitasari,
Nama yang cantik, secantik karaktermu yang ku tau. Selalu bermain dalam fikiran positif pada setiap peristiwa yang melintas dalam hidupmu, dan bertanggung jawab atas setiap tarikan nafas yang kau hirup.
Tetaplah seperti ini, atau menjadi lebih baik lagi. Tetaplah menjadi chui yang kukenal, yang yang senantiasa berbagi banyak hal, yang selalu tukar cerita tentang hidup, yang selalu memberi referensi lagu yang bagus dan yang tak pernah menyerah berjuang demi cita-cita dan mama tercinta. salam untuk beliau :)
Sekali lagi maaf untuk khilaf yang aku goreskan dalam kanvas hidupmu, ku harap tidak merusak persahabat yang telah kita jalin dalam tempo yang tidak sebentar. Do’a-ku untuk kebahagianmu, agar Alloh karuniakan kesehatan dan umur panjang dalam keberkahan. Smogaku persahabatan kita tetap menyatu, membaur dengan harapan, dan bergandengan tangan melangkahi realita.
Selamat menempuh usia baru, pecinta barney yang selalu memposisikan dirinya cenderung menepi
Kamis, 31 Januari 2013
kencangkan tali ikatan kita, atau biarkan saja berserakan
saat ini saya
sedang berada di sebuah ruang yang jauh dari kata tenang, namun lagi lagi
saya terpancing untuk memainkan imajinasi asal bicara yang bergejolak dalam
tempurung otak yang sudah tidak lagi stuck.
akhirnya
saya mencoba menciptakan tempat ini menjadi semacam ruang fantasi. Yeah!
Dalam
ruangan ini saya setting menjadi sebuah panggung cerita, yang dipanggung tersebut
hanya terdiri beberapa peran saja, isinya cuma sekumpulan lidi dan sebuah tali.
Al
kisah di belahan bumi bagian barat terdapat kaum lidi, lidinya beranekaragam,
tentu. Masing-masing dari lidi itu memiliki ciri khas yang berbeda-beda tapi
tetap berbentuk lidi dan tidak keluar dari art,
mereka
menancap dibeberapa tempat di bagian bumi sebelah barat, ditanah yang gambut
sampai yang tandus hanya agar mampu berdiri dan menikmati hidup.
Sampai
akhirnya setiap dari mereka merasakan lelah dan jenuh, karna segala hal yang
monoton membuat mereka merasa dangkal.
Kemudian
singkat cerita mereka saling dipertemukan oleh sang waktu, lalu satu persatu
tanpa sadar menikmati perbincangan demi perbincangan yang syahdu, dibawah lampu
temaran diantara senja dan malam. Tak perduli bagaimana keadaan mereka, meski
dalam keadaan rebah mereka tetap merasa kuat, karna kebersamaan mereka kerap
kali membuat mereka lupa pada sedu sedan yang mengharukan.
Pada
suatu waktu di hangatnya perbincangan, tiba2 sebuah tali cantik melintas, lalu
memperhatikan sekumpulan lidi-lidi itu dan tanpa canggung ia menwarkan diri,
katanya
“perkenankan
aku mempererat kalian dengan sebuah ikatan, yang akan membuat kalian berdiri
bersama dalam sebuah ketulusan”.
“untuk apa?” celetuk salah satu tali yang berdiri
paling depan.
seperti yang tadi ku bilang,
untuk membuat kalian berdiri bersama, agar keberadaan kalian lebih memiliki
arti.” Jawab tali cantik itu.
“oke. baiklah!!” para
lidi serempak meng-iya-kan penwarannya, dan tali cantik itupun mulai membuat
simpulnya yang indah.
seiring
berjalannya waktu akhirnya tali itu benar-benar mampu menyatukan kebersamaan
para lidi yang tadinya tercecer, kemdian menjadi kesatuan yang tampak
sumringah, karna mereka bisa saling membantu satu sama lain untuk berdiri
menikmati hidup ini. Mereka begitu menikmati perdetikan waktu yang menari
bersama suara bising yang mereka ciptakan dari hasil tawa , canda dan nyanyian insan
serta perjalanan2 yang menyenangkan. Sampai akhirnya dua diantara lidi-lidi itu
melakukan kesalahan, dan BOOMM !!! tali cantik itu melepaskan ikatannya, seraya
berkata “apa yang kalian lakukan?”
“maaf, sebelumnya kita sempat
menemukan tali manis lalu membuat simpul yang persisi denganmu, tp karna
ketidaknyamanan kita melepaskannya begitu saja.” Seru lidi itu.
‘oh.. pantas.” Sahut tali itu pelan.
“kenapa??” Tanya lidi itu kebingungam. “Apa yang kita lakukan itu salah?’’
“memang yang kalian lakukan salah, tp mungkin juga salahku, aku lupa memperingati kalian, sebaiknya jangan ada ikatan dalam pertalian yang telah ku buat”. Tali itu menjelaskan. “karna yang aku takutkan bukan cara kalian menyimpulkan tali manis itu, melainkan ketika kalian melepaskannya tanpa ragu”
“memang yang kalian lakukan salah, tp mungkin juga salahku, aku lupa memperingati kalian, sebaiknya jangan ada ikatan dalam pertalian yang telah ku buat”. Tali itu menjelaskan. “karna yang aku takutkan bukan cara kalian menyimpulkan tali manis itu, melainkan ketika kalian melepaskannya tanpa ragu”
“maaf, lalu apa yang harus
aku lakukan?? Aku ingin talimu menyimpul lagi dengan indah”
“maaf, tidak ada yang bisa ku
lakukan, kecuali rekan se-lidi mu sudi berkenan. Jadi.. biarkan mereka yang
menentukan. Kau cukup meminta pada Tuhan-mu agar sudi mengizinkan aku
menyimpulkan lagi tali-taliku diantara kalian”
“jadi, aku harus
menelan rindu ini sendiri, tersebab ikatanmu tak sekokoh tempo hari..” jawab lidi itu datar.
Minggu, 27 Januari 2013
cermin usang
Menepilah sejenak, asala jangan bersandar dalam diam!
Hai kamu..
Apa enaknya beban hingga kau menikmatinya sampai kenyang ?
Apa bagusnya tenang jika pada akhirnya kau rasakan gusar dalam diam ?
Wahai kau perempuan dalam cermin usang . D E N G A R !
aku nggak suka kamu yg sinis, memendam emosi dan meledakannya di kamar, sendiri.
aku benci kamu yang egois, berfikir secara pragmatis beradegan begitu dramatis.
aku muak dengan senyumanmu, senyuman-senyuman yang tidak lagi kau design dari hati.
aku rindu kamu yang dulu , jiwa yang cerianya tanpa ragu tanpa sedikitpun menyimpan sendu.
Kembalilah… dan pahamilah, berjalan kedepan hanya akan membuatmu terjatuh jika kepalamu masih saja menengok ke belakang.
Selasa, 22 Januari 2013
makam luka terlupa
Wahai luka kenapa tiba-tiba kau hadir dan menghantuiku lagi?? Padahal pemakamanmu telah ku taburi bunga keikhlasan.
Apa kau bangkit untuk menagih janji yg belum sempat terbayar?
Tapi apa?
Aku lupa.
Atau mungkin bunga-bungaku telah layu dan
meninggalkan bau busuk yang mengganggu.
Maafkan aku.
Aku lupa mengunjungimu.
Ku mohon sebelum hisabmu mengudara, tetaplah
terjaga.
meski bau busuk mengelilingi, meski tak ada
seorangpun yang menaburi bunga lagi.
Tetaplah disana, jangan kemana-mana, apalagi
menghantuiku di kala sepi.
Aku bisa hilang kendali jika bayanganmu kembali
menari.
Pergilah..
Kau tak pantas ada disini,
tempatmu bersama mimpi-mimpi yang terbunuh tragis.
Tapi percayalah..
Aku akan sering datang untuk menaburi bunga dan
memanjatkan do’a agar kau tenang disana.
Jakarta, Aku lupa aku luka
Langganan:
Postingan (Atom)
